Kamis (25/05/2023) pagi, anak-anak dan empat guru pendamping termasuk saya berkunjung ke SMA Islam Hidayatullah (SMAHA). Kami memenuhi undangan acara SMAHA Traditional Festival (STF). Anak-anak bersemangat dan begitu penasaran dengan apa yang akan dilakukan di sana.

Sebelum berkunjung ke tempat lain, Bu Wiwik selalu melakukan briefing kepada anak-anak untuk menjaga diri dan berperilaku sopan sebagaimana anak muslim. Anak-anak tampaknya paham. Meski kenyataannya belum tentu selalu sama. Mereka tetaplah anak-anak. Rasa ingin tahu mereka tak mudah dibendung. Sesekali Bapak/Ibu Guru memberi kode supaya tetap menjaga diri dan tidak berlebihan.

Setibanya di sana, kami disambut ramah oleh siswa siswi SMAHA. Tampak sorot mata anak-anak tak sabar untuk berkeliling. Tersedia banyak stan, panggung, dan kursi tamu.

Acara gelar karya itu berkonsep serba tradisional. Seluruh stan yang ada memamerkan aneka permainan dan jajajan tradisional dengan dekorasi bernuansa tradisional. Segenap panitia dan peserta mengenakan busana tradisional. Semua pertunjukan menyajikan kreasi seni tradisional. Dekorasi panggung utama juga menggunakan properti dan atribut tradisional. Tak mau kalah, para pemandu acara pun sesekali menyelipkan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar.

“Permisi, Bu. Guru pendampingnya mohon isi presensi terlebih dahulu, ya, Bu. Mejanya ada di bagian depan,” bisik salah seorang panitia, siswi SMAHA.

Kami berjalan menuju meja buku tamu. Anak-anak mengikuti dengan tertib di belakang guru pendampingnya masing-masing, yang sudah dibagi oleh Bu Wiwik sewaktu briefing di sekolah.

“Bu, anak-anaknya silakan boleh minum jamu di sebelah sana,” kata seorang siswi yang lain, sambil memberikan segelas plastik kecil jamu dan mengarahkan anak-anak ke stan jamu.

Anak-anak mengantre menunggu giliran. Antrean pertama Adit, teman-temannya mengikuti. Mereka terlihat antusias, padahal ada yang belum tahu rasanya tapi berani mencoba.

Satu per satu anak sudah memegang gelas kecil berisi jamu kunir asam. Ups, tidak tersedia tempat duduk. Yang ada hanya di depan panggung utama. Itu pun sudah hampir terisi penuh. Anak-anak tanggap dan sigap. Jika tidak ada tempat duduk, mereka terpaksa minum sambil jongkok. Mereka mengambil posisi jongkok, sembari menikmati minumannya.

“Bu, aku gak suka,” ucap dua atau tiga anak sambil menyodorkan gelasnya.

Saya membatin, “Sayang sekali. Jika dibuang, akan mubazir”. Saya bersyukur anak-anak tidak langsung membuangnya meski ada yang tidak suka.

“Enak banget jamunya, Bu” komentar Fillio, Aza, dan beberapa anak lain yang berbeda pendapat.

Tetiba saya terpikir. Akhirnya saya tawarkan jamu yang tidak jadi diminum kepada anak-anak yang suka jamu.

“Mau lagi, Nak?” tawar saya kepada anak yang posisinya terdekat.

“Mau, Bu.”

Oke, akhirnya saya minta anak-anak yang tidak suka jamu untuk memberikan jamunya kepada teman-temannya yang suka. Saya menuangkan jamu yang tidak jadi diminum ke gelas anak-anak yang mau imbuh.

“Terus ini gelasnya dibuang ke mana, Bu?” tanya beberapa anak yang gelasnya sudah kosong. Mereka belum melihat tempat sampah di sekitarnya.

“Di sana ada tempat sampah, silakan bisa dibuang di sana, ya,” jawab kami (saya, dan guru-guru lain) mengarahkan.

Alhamdulillah, anak-anak istikamah membiasakan kesalehan personal dan sosial. Menahan diri untuk tidak minum sambil berdiri—apalagi berjalan atau berlari—adalah kesalehan personal, berdampak kepada diri sendiri. Menahan diri untuk tidak membuang sampah—di tempat bukan semestinya—adalah kesalehan sosial, berdampak kepada lingkungan. Tidak segan banyak bertanya demi menemukan solusi, itu pun keterampilan hidup (life skill) yang patut untuk terus dipersudi.

Di Sekolah, anak-anak menerima paparan dan ajaran perilaku saleh itu. Lingkungan di luar sekolah mereka sendiri, seperti arena STF ini, menjadi ajang pendadaran. Konsistensi sikap dan perilaku mereka diuji di dunia nyata dengan situasi baru. Semoga anak-anak kelak mampu menghayati, segala kesalehan itu akhirnya kembali kepada diri mereka sendiri. Watch your character; it determines your destiny,” petuah Lao Tzu, yang kelak dikutip oleh banyak tokoh sepeninggalnya.

Hasna dan Cemara minum jamu di acara SMAHA Traditional Festival
Bagikan:
One thought on “Menjaga Adab, Merawat Lingkungan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *