“Bapak Ibu, jika punya foto anak-anak yang sedang mencuci tempat bekal atau kegiatan lain, mohon bantuannya untuk dikirim ke sini atau japri saya, nggih.”

Itu chat Bu Wiwik. Di grup SD Islam Hidayatullah 02. Terkirim pukul 17.18. 

Di menit yang sama, Ustaz Adhit merespons.

“Insyaallah ada, Bu Wiwik.”

Dua menit berselang, enam foto berukuran 1,3 MB terkirim ke grup percakapan. Pengirimnya, Ustaz Adhit.

Salah satu foto yang dikirim Ustaz Adhit

Memang Ustaz Adhit termasuk salah satu pengabdi yang cukup sering mengambil foto kegiatan anak-anak. Tidak ada pengabdi yang ditugasi secara khusus untuk mengambil foto kegiatan anak-anak. Justru semua pengabdi diimbau untuk memfoto tiap kali menemui momen yang dipandang layak untuk didokumentasikan. Menggunakan kamera pada HP masing-masing. 

Saya mengikuti percakapan via chat WA tersebut. Saya membacanya pukul 17.18. Beberapa saat setelah tiba di rumah. 

Saya tahu Bu Wiwik sudah berada di rumah. Ustaz Adhit juga sudah pulang dari Sekolah. Jam kerja berakhir pada pukul 15.00. Namun, teman-teman baru meninggalkan Sekolah rata-rata pukul 15.30. Tepatnya setelah berjemaah Asar di musala Sekolah. Bahkan hari itu Bu Wiwik harus pulang sekitar pukul 16.30.

“Masyaallah, begitu tingginya komitmen teman-teman. Semangat mereka sungguh luar biasa,” batin saya.

Walau di luar jam kerja, walau sedang di rumah, mereka tetap terus menjalankan tugas. Apalagi untuk tugas yang memang mendesak. 

Bagi saya, itu adalah salah satu bukti upaya teman-teman untuk beramal secara ikhlas. Sekaligus menguatkan kepada diri saya untuk terus beramal secara ikhlas. Karena saya pun mengakui: kinerja baik teman-teman sering kali menular pada diri saya.

Di malam harinya, percakapan di grup membuat saya makin takjub. 

“Bapak Ibu, apakah tadi sudah ada tahniah untuk kenaikan Jilid Lintang? ,” tulis Ustazah Layla. Itu pukul 20.20.

Owh nggih, Ustazah, belum sempat saya buatkan,” respons Ustaz Adhit yang beliau tulis pukul 21.07.

Berselang 20 menit kemudian, Ustaz Adhit telah mengirimkan tahniah untuk Lintang.

Ya, hari itu Lintang telah lulus kenaikan jilid. Dari jilid 4 naik ke jilid 5. Lintang dites sebelum pukul 11.00. Kebetulan belum dibuatkan tahniah. Selama ini yang membuat tahniah kenaikan jilid ada dua orang: Ustaz Adhit dan Bu Ambar. Ustaz Adhit lebih sering daripada Bu Ambar.

Apa yang dilakukan Ustaz Adhit di malam tersebut menunjukkan sikap tanggap beliau. Walau di rumah. Bahkan di atas pukul 21.00. Beliau tetap membuatkan tahniah. Padahal untuk membuatnya, butuh banyak hal yang harus dilakukan. Harus buka data, untuk melihat nama orang tua. Harus membuka kumpulan foto, lalu memilihnya. Belum lagi tampilan dan lain-lain. Itu jelas-jelas membutuhkan waktu dan kecermatan. Dan ketika itu dilakukan di malam hari, saya bisa membayangkan tingkat kecapekannya.

Terlintas dalam pikiran saya, apa yang disampaikan Ustaz Hasan Toha di musala SD Islam Hidayatullah. Saat beliau memberi sambutan. Di acara Halalbihalal Keluarga Besar LPI Hidayatullah Yayasan Abul Yatama. “Jam kerja guru adalah 24 jam.” Tidak boleh seorang guru menanggalkan atribut “guru” walau satu detik, walau di rumah atau tempat lain di luar sekolah. Bahkan tidurnya haruslah mencerminkan tidurnya seorang guru. 

“Percakapan teman-teman di grup telah mencerminkan apa yang disampaikan Ustaz Hasan,” batin saya.

Saya memperhatikan percakapan tersebut. Namun, sedikit pun saya tidak merespons. Saya hanya menyimak. Tidak pula saya men-japri.

Justru dengan hanya menyimak tersebut, saya semakin merasa malu. Betapa saya dikelilingi teman-teman yang berkomitmen tinggi dan bersemangat luar biasa. Semestinya saya banyak bersyukur. Tidak hanya bersyukur melalui lisan tetapi juga manifestasi syukur dalam wujud tindakan. Sudahkan saya banyak bersyukur? Rasanya begitu malu untuk menjawabnya. Semoga saja saya dimudahkan untuk terus memperbanyak syukur.

Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Bu Wiwik, Ustaz Adhit, Ustazah Layla, dan teman-teman lainnya. Saya berharap apa yang saya dan teman-teman lakukan termasuk kategori “tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa”. Semoga. (A1)

Bagikan:
One thought on “Tak Terbatas Waktu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *