Gaung Implementasi Kurikulum Merdeka kian menggema di Sekolah. Hampir setiap hari ada saja perbincangan tentang hal ini. Di ruang guru, selasar Sekolah, bahkan di ruang maya pun intens saya dengar dan baca serba-serbi IKM.

“Bapak Ibu, mari kembalikan anak pada fitrahnya. Jangan paksakan mereka. Kita sebagai guru cukup mendorong dan memfasilitasi,” Bu Vivi bertutur.

Bu Vivi adalah narasumber pelatihan kali ini. Selain psikolog, beliau adalah founder Bintang Juara. Selama tiga hari berturut-turut, seluruh guru mengikuti pelatihan dengan tema dan narasumber berbeda setiap harinya.

“Bu, waktu penugasan di kelas, saya mengamati ada 3 tipe anak. Anak-anak tipe A khusyuk mengerjakan tugasnya secara mandiri dan jawabannya betul. Anak-anak tipe B bisa mengerjakan tapi harus bolak-balik tanya ke saya. Anak-anak tipe C harus full saya dampingi,” celoteh Miss Rizqa menggebu, “Ini termasuk diferensiasi, nggak, ya?”

“Menurutku sudah, Bu. Wong njênêngan sudah treated them differently. Saya juga pernah, Bu. Waktu itu menugasi anak-anak untuk menyajikan pecahan menggunakan makanan yang mereka sukai. Proses membuatnya boleh berupa video, foto, atau voice note,” jawab saya.

Diferensiasi bisa dilaksanakan pada ranah konten, proses, dan/atau produk. Apa yang dipaparkan kedua guru tersebut mengacu pada diferensiasi proses. Dalam sebuah webinar, saya pernah mendengar narasumber berkesimpulan bahwa diferensiasi itu adalah kemampuan guru untuk merespons kebutuhan murid. Bukankah secara alamiah, guru akan selalu memperlakukan murid sesuai dengan karakternya? Pada anak yang cuek, misalnya, guru akan lebih lugas menyampaikan apa yang harus dilakukan jika anak tersebut melakukan kesalahan. Lain halnya dengan perlakuan terhadap anak yang sensitif, guru tentunya akan mengatur tutur katanya sedemikian rupa sehingga anak tersebut tak semakin berkecil hati saat melakukan kesalahan.

Diskusi singkat dengan Miss Rizqa tersebut semakin menguatkan saya: Kurikulum Merdeka itu bukan hal baru. Kita sudah sering, bahkan selalu menerapkannya. PR terbesar saya adalah bagaimana menumbuhkan kemauan belajar pada diri saya. Bukankah core value dari Kurikulum ini adalah merdeka dari kemalasan belajar? Bukankah: semua guru, semua murid?

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *