“O, iya, Pak, besok ortu (orang tua siswa—pen.) boleh datangkah?” tanya Bu Meta melalui pesan WhatsApp yang saya terima pada pukul 18:52.

Keesokannya, Rabu (8/3/2023) Meisya, putri beliau, akan mengikuti lomba menyanyi di SD Negeri Srondol Wetan 02. Lomba ini digelar dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2023 tingkat Kecamatan Banyumanik.

Terdaftar 34 peserta lomba menyanyi, duta 34 sekolah dasar (SD). Sebenarnya di Banyumanik terdapat 44 SD. Namun, 10 SD tidak mengirim delegasi. Tiga puluh empat peserta itu terdiri dari 19 siswa kelas V, 10 siswa kelas IV, tiga siswa kelas III, dan dua siswa kelas II.

Meisya, utusan SD Islam Hidayatullah 02, menjadi peserta termuda. Usianya terpaut 10 bulan dari kontestan sesama kelas II, Najwa dari SD Negeri Pudakpayung 02.

Menilik usianya, sebetulnya saya tidak sampai hati untuk mendelegasikan Meisya. Namun, semangat dan mental kompetisinya terlalu sayang untuk disia-siakan. Apalagi selama ini ia juga sudah cukup berpengalaman dalam adu bakat tarik suara. Akhirnya kami—saya dan guru-guru yang lain—mantap mendaftarkan Meisya.

O, ya. Meisya adalah siswa angkatan pertama di sekolah kami. Jadi, tidak mungkin kami mengirim kakak kelasnya.

***

November tahun lalu Meisya ingin tampil menyanyi dalam open house SD Islam Hidayatullah—saudara tua SD Islam Hidayatullah 02. Sayang, alokasi waktu pentas terbatas. Dengan berat hati, kami batal meluluskan keinginan salah seorang siswa kebanggaan kami.

Alhamdulillah, kesempatan lain datang. Panitia SMAHAFEST—festival seni dan olahraga yang diselenggarakan oleh SMA Islam Hidayatullah—mengundang Meisya unjuk kebolehan dalam acara penutupan. Kesempatan tampil di puncak acara SMAHAFEST pada Sabtu (25/02/2023) itu serasa menebus kekecewaan Meisya—lebih tepatnya: kami, guru-gurunya.

Saya menemani Meisya mengikuti gladi resik sebelum pentas. Di saat itulah saya menyaksikan betapa besar rasa percaya dirinya. Yang lebih membesarkan hati, bukan hanya ketika di panggung dia tampil percaya diri, melainkan juga di dalam pergaulan.

Ketika saya hendak mengantarnya ke acara gladi resik, tanpa ragu ia memulai percakapan, “Bapak, namanya siapa?”

“Meisya lupa saya?” jawab saya, balik bertanya.

“O, Pak Kambali, ya?”

“Nah, itu masih ingat.”

“Katanya yang mau mengantar saya Bu Layla. Kok jadinya Pak Kambali?”

“Iya. Soalnya, Bu Layla sedang ada tugas. Jadinya, yang mengantar, saya.”

Begitulah. Meisya berbicara tanpa canggung. Selama perjalanan dari SD ke SMA, ia terus mengajak saya berbincang. Padahal, baru satu kali kami bertemu sebelum itu. Tujuh bulan yang lalu. Saat ia kali pertama masuk sekolah kami. Lagi pula, pembicaraan waktu itu lebih banyak berlangsung antara saya dan orang tuanya.

***

Ketika Meisya tampil di puncak acara SMAHAFEST, Bu Meta hadir. Sebagai seorang ibu, wajar kalau beliau berkepentingan untuk menyaksikan tampilan putrinya. Setidaknya, kehadiran itu menjadi bukti atas dukungan penuh beliau untuk keseriusan Meisya dalam mengembangkan bakat dan minatnya.

Rupanya Bu Meta juga ingin hadir menyaksikan putrinya tampil di FLS2N. Akan tetapi, ajang FLS2N sangat berbeda dari SMAHAFEST. Selain berbeda dalam hal tujuan kegiatan, FLS2N tingkat kecamatan dilangsungkan di ruang yang cukup terbatas. Ini membuat saya tidak yakin apakah Bu Meta bisa hadir di arena.

“Coba, saya tanyakan pihak panitia terlebih dahulu,” tulis saya, membalas pesan Bu Meta.

“Baik, Pak. Kalau boleh, paling saya menyusul.”

Saya ikut dalam rombongan ke SD Negeri Srondol Wetan 02. Kebetulan, ada undangan untuk menghadiri upacara pembukaan. Sekaligus saya tunaikan tanggung jawab saya untuk menunjukkan dukungan dan memompa semangat Meisya. Bagaimanapun, ia duta pertama sekolah kami dalam kompetisi antarsekolah.

Begitu melihat situasi di arena lomba, saya bergegas mengabari Bu Meta, “Guru pendamping tidak bisa masuk ruangan. Jadi, ortu pun demikian. Hanya bisa di lokasi, tapi ga bisa masuk ruangan untuk melihat.”

“Oh, njih, kalau begitu, Pak. Insyaallah ntar saya ke sana tapi ga bisa lama, Pak,” balasnya.

“Karena ga bisa melihat, apa tidak lebih baik tidak ke sini saja?”

“Saya cuma mampir bentar, Pak, habis nganter adiknya sekolah. Tapi jangan bilang Kak Meisya, Pak, kalau saya mau ke sana. Cuma lihat dari kejauhan saja.”

Bu Meta benar-benar datang. Bahkan, akhirnya bertemu juga dengan Meisya. Memang, sangat kentara perhatian beliau kepada putrinya. Meisya mendapat dukungan luar biasa.

***

Hasil lomba pun diumumkan. Membanggakan! Perolehan nilai Meisya bertengger di urutan ke-15. Ia berhasil mengungguli 19 peserta lainnya. Semua berusia di atasnya.

Meisya saat tampil di FLS2N

Sebagai peserta termuda dan baru kali pertama bertarung di FLS2N, Meisya mempersembahkan prestasi luar biasa. Peluang untuk memperbaiki capaian di ajang yang sama pada tahun-tahun berikutnya masih terbuka lebar. Sekarang ia masih duduk di kelas II. Masih ada tiga kali kesempatan untuk maju lagi sebagai duta Sekolah dalam FLS2N.

Anggap saja keikutsertaannya kali ini sebagai pemanasan. Selain menambah jam terbang, ia bisa menjajaki kemampuan para calon kompetitornya tahun depan. Seiring pertambahan usianya, insyaallah makin matang pula kepiawaian Meisya dalam olah vokal.

Saya dan sejawat di SD Islam Hidayatullah 02 tentu pantas untuk bersyukur atas capaian Meisya. Namun, bagi saya secara pribadi, hasil yang diraih Meisya dalam lomba kali ini bukanlah fokus utama. Justru ada sisi lain yang sungguh berkesan bagi saya: kepercayaan diri Meisya. Itu karakter yang—tak diragukan—lebih dari layak untuk diacungi jempol.

Hingga saya pun bertanya-tanya: adakah kepercayaan diri Meisya terbentuk oleh perhatian dan dukungan ibunya—atau tepatnya, kedua orang tua dan keluarganya? Wallahu a’lam.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *