Sabrina sedang menunjukkan hasil karyanya.

Tiba di Sekolah, saya memarkir sepeda motor. Masih pagi. Namun, saya bukan orang pertama yang hadir di Sekolah. Sejumlah anak kelas 1 sudah terlihat di selasar depan ruang kelas. Mereka tampak bercengkerama. Saya menuju ruang guru. Mesin finger print ada di ruang guru. Setiap masuk sekolah, saya selalu mampir ke ruang guru terlebih dahulu untuk scan sidik jari. Di ruang guru, juga sudah ada yang hadir, Bu Wiwik. Beliau sedang fokus di depan laptop. Setelah memastikan scan sidik jari berhasil, saya lalu menuju ruang yang saya tempati. 

Dari ruang guru menuju ruangan saya, saya berpapasan dengan anak-anak. Salah satu dari mereka menghampiri saya. Perempuan.

“Asalamualaikum, Pak Kambali,” Sabrina berkata demikian sembari mengulurkan tangan kanannya, mengajak bersalaman. Saya ulurkan tangan saya, menyambut ajakannya, sembari menjawab salamnya. Kami bersalaman dan Sabrina menyempurnakannya dengan mencium tangan saya. 

Teman-teman Sabrina masih asyik dengan obrolan mereka. Belum ada tanda-tanda mereka akan melakukan hal yang sama dengan Sabrina, menyalami saya. Saya terpikir untuk menunggu sebentar, barangkali mereka juga hendak mencontoh apa yang dilakukan Sabrina. Saya pun menyiapkan sejumlah pertanyaan kepada Sabrina, sebagai bahan percakapan dengannya, sembari menunggu reaksi teman-teman Sabrina. Pertanyaan pertama yang hendak saya sampaikan, berkaitan dengan bangun tidur. Saya penasaran, Sabrina bangun sendiri atau dibangunkan. 

Namun, belum sempat saya bertanya, Sabrina lebih dulu berkata, “Teman-Teman, salim dulu dengan Pak Kambali!”

 Dalam sekejap saya dikelilingi teman-teman Sabrina. Mereka berebut, mengajak salaman. Satu per satu saya sambut tangan mereka. Manjur juga ucapan Sabrina. 

Kaidahnya, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada yang duduk. Dalam hal ini, mestinya saya yang mengucapkan salam terlebih dahulu kepada anak-anak. Dan menurut Rasulullah, orang yang memulai megucapkan salam itu lebih utama, meskipun sunah hukumnya. Sementara menjawab salam, wajib hukumnya. 

Sabrina memilih menghampiri saya dan memulai mengucapkan salam. Ia tidak menunggu saya mengucapkan salam, meskipun ia tahu saya akan semakin dekat dengan kerumunan anak-anak. Ia sudah punya inisiatif yang baik. Bahkan ia ajak teman-temannya. 

Sikap saya yang menunggu anak-anak dan berharap mereka mendahului mengucapkan salam, dalam sudut pandang keutamaan, jelas saya keliru. Sebab saya tidak bersegera mengambil kesempatan tersebut, tetapi malah menunggu dan bersikap pasif. Namun, dalam proses edukasi terkadang guru perlu menyusun skenario. Sedemikian rupa sehingga anak-anak akan mendapat pengalaman belajar yang dibutuhkannya.

Saya masih ingat dengan matematika. Di perkuliahan saya baru tahu bahwa matematika itu ilmu deduktif, karena matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pada pengamatan (induktif). Namun, dalam kenyataannya tidak mungkin mengajarkan matematika kepada anak-anak—apalagi anak usia SD—dengan pendekatan penalaran deduktif. Maka mucullah istilah matematika Sekolah Yaitu matematika yang diajarkan di sekolah—SD sampai dengan SMA. Matematika Sekolah berbeda dengan matematika sebagai ilmu. Dalam matematika Sekolah tidak masalah menggunakan penalaran induktif, meskipun matematika adalah ilmu deduktif.

Memang saya akhirnya menjadi orang yang menjawab salam dan Sabrina yang memulai mengucapkan salam. Jadi, Sabrina telah pandai mengambil peran sebagai orang yang lebih utama. Dan tatkala peristiwa itu terjadi pada Selasa (22/11) pagi, saya merasa bahagia. Bangga bahwa ada anak yang telah berhasil mengambil peran utama. Saya tidak perlu egois terhadap anak-anak dalam mengambil peran utama, apalagi hanya supaya dianggap lebih hebat. (A1)

Sabrina sedang menunjukkan hasil karyanya.
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *