Rintik hujan mengguyur penjuru kota. Pagi itu seakan terasa lebih sibuk dari biasanya. Lalu lintas tersendat. Jalanan macet. Dapat dipahami, saat hujan di pagi hari, para murid diantar menggunakan mobil. Semakin banyak mobil yang memadati jalanan di sekitar Sekolah. Bel berbunyi. Murid yang telah hadir baru separuh. Murid-murid lainnya masih berjibaku dengan kemacetan.

“Bu Wiwik, kapan ke SMA-nya?” tanya Fillio merajuk.

“Nanti setelah BAQ. Sekarang ngaji dulu, ya,” jawab Bu Wiwik.

Fillio dan teman-temannya sudah tak sabar mengikuti gladi resik pembukaan SMAHAFEST di SMA Islam Hidayatullah. Sehari sebelumnya, Bu Wiwik menyampaikan kabar itu kepada murid-muridnya. Mereka sangat antusias.

“Omku dulu sekolah di sana,” Ken menyeletuk.

“Kalau kakakku sekolahnya di SMP Hidayatullah,” Valda menimpali.

“Aku besok kalau sudah SMP pingin sekolah di Hidayatullah juga,” Itaf tak mau kalah.

“Amin, semoga Allah mudahkan cita-cita kalian semua, ya. Jadi besok itu Anak-Anak akan latihan menjadi player escort.”

“Oh, aku tahu. Kaya yang di Piala Dunia itu, kan, Bu?” timpal Langit dengan mata berbinar.

“Iya, betul. Nanti Anak-Anak mendampingi Kakak-Kakak saat upacara pembukaan,” lanjut Bu Wiwik.

Yeay! Kita ikut main futsal, kan, Bu?” seru Adit kegirangan.

“Enggak, Mas Adit. Teman-Teman tidak ikut main futsal. Yang bertanding hanya Kakak-Kakak SMA dan SMP,” jelas Bu Wiwik.

Adit tersipu.

***

Pelajaran BAQ telah usai. Para murid berhamburan keluar dari ruang mengaji mereka menuju kelas. Rintik hujan masih mengguyur. Murid-murid tak sabar ingin segera berangkat.

“Busnya sudah datang!” beberapa anak berseru.

“Anak-Anak, silakan duduk di karpet sesuai kelompok,” pinta Bu Wiwik.

Ia menjelaskan kembali gambaran kegiatan yang akan dilakukan. Sembari mengulur waktu menunggu hujan reda.

Alhamdulillah, tak berselang lama, hujan telah reda. Para murid bergegas memasuki mobil yang telah terparkir di halaman sekolah. Rona kegembiraan terpancar dari wajah-wajah mereka.

“Bu, kami sudah tiba di aula SMAHA,” Bu Wiwik mengirim pesan kepada Bu Luthfi.

Tak berselang lama, Bu Luthfi—panitia SMAHAFEST—dan Bu Etik—Kepala SMA Islam Hidayatullah—menyambut kami dengan ramah. Hiruk pikuk kesibukan begitu terasa.

“Anak-anak menunggu di sini dulu, nggih, Bu. Lapangannya baru dibersihkan dari genangan air,” Bu Luthfi menjelaskan.

“Baik, Bu,” jawab Bu Wiwik.

***

“Anak-Anak, silakan duduk lima baris di sini. Snack-nya boleh dimakan. Sampahnya dikumpulkan di kardus ini, ya.”

Para murid mengikuti instruksi Bu Wiwik. Ustaz Adhit dan Pak Jamal turut membantu mengondisikan anak-anak. Suasana kondusif itu hanya berlangsung tak lebih dari sepuluh menit. Aula yang luas menggoda naluri gerak mereka. Para murid berlarian kejar-kejaran, lompat-lompat di tumpukan matras, dan ada pula yang bermain petak umpet. Bu Wiwik, Ustaz Adhit, dan Pak Jamal membiarkan murid-murid mereka menikmati suasana baru itu. Hanya sesekali mengingatkan agar tidak bermain dengan berlebihan.

Para murid saat menunggu persiapan gladi resik

“Bu Wiwik, bolehkah saya izin ke kamar mandi?” Itaf meminta izin.

“Silakan,” jawab Bu Wiwik.

“Tapi aku belum tahu kamar mandinya di mana, Bu,” Itaf menimpali.

“Coba Itaf tanya kakaknya itu,” jawab Bu Wiwik.

Bu Wiwik sengaja tidak memberi tahu itaf di mana letak toilet. Alhamdulillah Itaf berani bertanya. Bahkan, Kakak SMA yang ia tanyai mengantarkan Itaf ke toilet. Masyaallah.

Waktu yang dinanti pun tiba. Para murid berbaris dua lajur di selasar.  Mereka lantas menuju lapangan futsal. Setiap anak digandeng oleh seorang kakak SMA. Interaksi menggemaskan pun terjadi.

“Kamu Namanya siapa?” tanya seorang Kakak.

“Aya,” jawab Rayya.

Rayya memang cadel. Bu Wiwik mengamati dari jauh.

“Aya?” tanya sang Kakak mengonfirmasi.

“Bukan. Aya,” jawab Rayya.

Sang Kakak masih bingung.

“Aya,” jawab Rayya sembari memperlihatkan badge nama di kemejanya.

“Oh, Rayyanza,” jawab sang Kakak sambil tersenyum.

Rayya pun ikut tersenyum manis. Senyum keduanya menular ke Bu Wiwik.

Murid-murid mengulang gladi tersebut sebanyak tiga kali. Tingkah lugu mereka menjadi hiburan tersendiri bagi penonton. Sejak memasuki arena, para penonton—sebagian besar siswa SMAHA—terpesona dengan kelucuan anak-anak. “Iiih, lucu banget. Jadi pingin punya adik,” celetuk salah seorang penonton.

Alhamdulillah, kegiatan gladi resik ini berjalan lancar. Anak-anak menikmati suasana baru dengan bahagia. Saatnya kembali ke Sekolah. Mobil HIACE telah menunggu di halaman depan. Setelah berpamitan, rombongan menaiki mobil.

“Kakak yang menggandengku tadi namanya Kak Ije. Nama lengkapnya Rizki Haulana Abdi,” cerita Ken dengan antusias.

“Kalau aku tadi sama Kak Ibrahim,” Haqqi menimpali.

Percakapan seru terus berlangsung sepanjang perjalanan. Tak hentinya mereka menceritakan pengalaman mereka satu sama lain. Meski lelah, tak menyurutkan semangat mereka untuk berbagi cerita.

Alhamdulillah. Pasti ada hal baru yang mereka alami dan pelajari dari pengalaman itu. Mungkin hanya pengalaman Itaf, Rayya, Ken, dan Haqqi saja yang tertangkap oleh Bu Wiwik. Pengalaman dan proses belajar murid-murid lain bisa jadi luput dari pandangan Bu Wiwik. Mereka semua pasti menemukan hal baru. Terima kasih, SMAHA dan Kakak-Kakak, atas torehan memori indah ini.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *