“Pagiku cerahku. Matahari bersinar. Kugendong tas merahku di pundak.”

Alunan lagu bergema di seluruh penjuru sekolah. Hiruk pikuk kesibukan hari pertama masuk sekolah semester 2 tampak jelas di jalan raya depan sekolah. Lalu lintas tersendat. Bunyi peluit petugas keamanan bersaut-sautan mengatur lalu lintas.

Fillio hadir paling awal. Ia terlihat semangat. Fillio lantas melepas sepatunya sembari duduk di ambang pintu. Ia tampak kebingungan dengan kondisi kelasnya. Semua meja dan kursi dipinggirkan mepet tembok dan saling berimpitan.

Fillio masuk kelas.

“Salamnya mana, Mas Fillio?” ujar Bu Wiwik dari kursi guru.

“O, iya, lupa,” Fillio menyeringai sambil mengulang lagi berjalan dari ambang pintu.

“Asalamualaikum, Bu Wiwik,” sapa Fillio sembari mendekati dan mencium punggung tangan gurunya.

“Waalaikum salam. Mas Fillio bingung, ya? Minumnya diletakkan di meja itu. Kotak bekalnya ditaruh di meja belakang sana. Lalu, tasnya dimasukkan ke dalam loker.”

“Oke, Bu,” jawab Fillio sambil melompat-lompat kecil tanda kegirangan.

“Mas Fillio, Bu Wiwik mau ke ruang guru dulu. Nanti kalau ada teman yang datang, tolong dikasih tahu cara meletakkan bekal dan tasnya, yaaa.”

“Ya,” jawab Fillio singkat.

Hari pertama hingga ketiga di semester 2 ini, anak-anak pulang awal. Pukul 10.00. Hari pertama dan kedua terjadwal bimbingan dan simulasi istinja: buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Selain simulasi BAB, terdapat pula simulasi wudu di hari kedua dilanjutkan salat Duha.

Jauh-jauh hari sebelum membimbingkan kepada anak-anak, para guru telah menyelesaikan penyusunan POS (prosedur operasi standar) masing-masing kegiatan. Mereka bahkan mempraktikkannya. Ustaz Adhit menyimulasikan wudu, para guru menyaksikan dan mendiskusikan cara yang sekiranya paling mudah dijangkau oleh anak.

“Anak-Anak, Bu Wiwik akan membagi kelas dalam empat kelompok. Dua kelompok putra dan dua kelompok putri. Kelompok A putra nanti bersama Ustaz Adhit, kelompok putri A bersama Ustazah Layla,” jelas Bu Wiwik.

“Bu Wiwik minta tolong Anak-Anak benar-benar memperhatikan Ustaz dan Ustazah mempraktikkan POS-nya. Lalu, setelahnya, giliran kalian mempraktikkan sesuai contoh sampai benar. Jika belum benar, akan diulang sampai benar,” lanjut Bu Wiwik.

“Yang kelompok B gimana, Bu Wiwik?” tanya Aza ingin tahu.

“Kelompok B putra dan putri tetap di kelas bersama Bu Wiwik. Nanti Bu Wiwik jelaskan dulu POS-nya, lalu kelompok B mempraktikkan setelah kelompok A selesai.”

Meski telah dipersiapkan dengan matang, ada saja kendala yang dialami di lapangan. Sepulangnya anak-anak, para guru berkumpul di ruang guru melakukan evaluasi bersama. Hasil evaluasi dijadikan bahan untuk ditindaklanjuti pada hari berikutnya.

“Tadi yang kelompok A butuh waktu lebih lama dan pengulangan yang lebih banyak dibandingkan kelompok B, Bapak/Ibu. Mungkin dikarenakan mereka belum memiliki gambaran kegiatan yang akan dilakukan,” tutur Ustazah Layla.

Ustaz Adhit mengiyakan.

“Iya, Bu, tadi kelompok B sudah mendapat penjelasan di kelas sebelum praktik, sehingga mereka sudah punya gambaran,” Bu Wiwik menimpali.

“Alhamdulillah, tadi Fillio dan Qaleed praktik BAB-nya paling bagus,” jelas Ustaz Adhit.

“Anak-anak sudah selesai praktik semua?” tanya Pak Kambali.

Ustazah Layla dan Ustaz Adhit kompak menjawab belum.

“Kalau begitu, besok dilanjutkan lagi sampai setiap anak praktik. Jika waktunya masih kurang, bisa menggunakan hari lain. Targetnya, semua anak praktik satu-satu. Kalau perlu, Bapak Ibu bisa menggunakan jam Matematika hari Kamis untuk menyelesaikannya,” imbau Pak Kambali menegaskan.

Para siswa menyimak penjelasan Ustaz Adhit

Simulasi BAK dan BAB sesuai POS dijadwalkan selesai di hari kedua, tetapi kenyataannya harus molor hingga hari keempat. Para guru telah berkomitmen untuk ngopeni istinja anak-anak. Tak masalah jika harus mengorbankan jam pelajaran lain. Sudah sewajarnya, jika kita mengutamakan satu hal, maka hal lain akan terdampak.

Pak Kambali memotivasi para guru untuk tetap mengawal kegiatan ini dengan baik. Beliau menuturkan betapa pentingnya taharah—termasuk di dalamnya istinja—sehingga materi ini menjadi pembahasan yang paling awal dalam kitab-kitab fikih.

Cemara menyimulasikan beberapa prosedur istinja

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *