Bu Layla saat meguji tes kenaikan jilid

Pagi itu. Target waktu dan pekerjaan belum tercapai. Padahal putrinya, Afsheen, nanti akan ujian ngaji. Bu Layla jadi kemrungsung dan uring-uringan. Beliau “memaksa” Afsheen bersegera ini dan itu. Afsheen jadi ikut-ikutan kena dampak suasana batin ibunya. Suami Bu Layla tanggap. 

“Umi, nanti Afsheen mau ujian. Sebaiknya Afsheen dibikin nyaman pagi ini,” suami Bu Layla membisiki istrinya.

“Astagfirullah, terima kasih, Bi,” timpal Bu Layla yang sadar setelah mendapat teguran suaminya.

Bu Layla lalu mendekati Afsheen. Mohon maaf sembari memeluk Afsheen. 

Afsheen memakluminya dengan mengajukan satu permintaan. Dia menginginkan buku prestasi ngajinya ditempeli kertas. Kertas berbentuk hati. Bertuliskan: Selamat mengikuti ujian! Semoga lulus. Abi, Umi, dan Adik mendukungmu.

Bu Layla tersenyum dan merasa geli. Beliau mengabulkan permintaan Afsheen. Pagi itu buku prestasi Afsheen berbeda dari hari-hari sebelumnya. Afsheen girang sekali. 

Setelah mengantar Afsheen ke sekolah, Bu Layla masih khawatir. Afsheen belum sempat ngaji, untuk persiapan ujian. Bu Layla pasrah: Allah pasti memberikan yang terbaik untuk Afsheen.

Siangnya Bu Layla menerima kabar. Afsheen lulus.

Bu Layla saat meguji tes kenaikan jilid

“Ternyata benar, Pak Kambali. Perilaku orang tua sangat berpengaruh dan punya asar pada anaknya. Demikian pula hubungan guru-murid. Perilaku guru sangat berpengaruh dan punya asar pada muridnya,” kata Bu Layla kepada saya di akhir ceritanya.

Saya termasuk yang meyakini hal itu. Bahkan, meskipun tindakan guru tidak dilihat secara langsung oleh muridnya. Memang tidak mudah untuk menjelaskan pernyataan tersebut secara rasional. Cerita yang dialami Bu Layla menguatkan pernyataan itu. 

Saya mendapatkan pernyataan tersebut saat di pesantren. Saat itu saya berpikir keberlakuannya hanya di pesantren. 

Seiring waktu, setelah beberapa tahun saya mengajar di SD Islam Hidayatullah, saya mendengar pernyataan senada. Beda redaksi. Tetapi makna dan substansinya sama. Saat itu yang menyampaikan salah seorang guru di SD Islam Hidayatullah.

Saya masih sangat terkesan pernyataan guru tersebut. Beliau mengutip maksim pedagog. Inilah pernyataan itu: kita tidak dapat mengajarkan apa yang kita ketahui; kita tidak dapat mengajarkan apa yang kita kehendaki; kita hanya dapat mengajarkan apa yang memang ada dalam diri kita. 

Sejak itu saya meyakini bahwa pengaruh perilaku guru terhadap muridnya bukan hanya berlaku di pesantren, tetapi berlaku umum untuk semua institusi pendidikan.

Maka beruntunglah bagi guru yang terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas diri secara berkelanjutan. Itu bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga berdampak pada muridnya. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *