Salat Duha. Depan (dari kiri ke kanan): Langit, Hafidz, Itaf, Ridho, Iqbal, dan Rendra

Saya ke musala. Tepatnya ruang kelas. Tetapi digunakan untuk melaksanakan salat. Saya pikir saya orang pertama. Ternyata di musala sudah ada orang lain. Bu Layla sedang salat sunah. Pak Slamet dan Pak Topo juga sudah duduk tenang menghadap kiblat. Saya bergegas salat sunah. 

Selesai salat sunah, saya memperhatikan para murid yang sudah mulai tiba di musala. Mereka ambil sajadah lalu mengambil posisi di saf salat. Saya pikir mereka segera duduk di saf tersebut. Ternyata tidak. Mereka tetap berdiri. O, anak-anak itu salat sunah. 

Murid lain yang datang setelahnya juga melakukan hal yang sama. Ambil sajadah, masuk saf salat, dan salat sunah. Ups, tidak semua murid. Sebagian. Lebih dari 18 murid. Jumlah seluruh murid yang di musala hari itu 25 murid. Berarti yang bersalat sunah lebih dari 70%.

Masyaallah.

Tiga hari lalu, Senin (3/10), ada kejadian yang sangat mengesankan. Saya masih sangat ingat.

“Salat sunah dulu, yuk,” ujar Ridlo pada teman sebelahnya, Itaf.

“Berapa rakaat, Pak Kambali?” tanya Itaf.

“Dua rakaat.”

Sebenarnya saya juga tahu. Sebelum Zuhur, bisa dua rakaat, bisa pula empat rakaat. Untuk ukuran murid kelas 1, dua rakaat sudah luar biasa. Apalagi ditambah: atas kemauan sendiri. Maka saya mantap memilih jawaban dua rakaat. Tanpa memberi penjelasan pilihan-pilihan lainnya.

Ridlo dan Itaf lalu berdiri. Salat sunah. Ternyata aksi keduanya diikuti teman lainnya, Hafidz.

Hari itu tiga anak salat sunah sebelum Zuhur. Atas kemauan sendiri. Tanpa ada yang meminta. Guru tidak mengimbau. Tidak pula meminta. Apalagi memaksa. Tidak sama sekali. Murni atas kemauan mereka sendiri. Memang hanya tiga anak.

Salat Duha. Depan (dari kiri ke kanan): Langit, Hafidz, Itaf, Ridho, Iqbal, dan Rendra

Hari berikutnya, aksi ketiga anak itu diikuti beberapa teman lainnya. Bertambah. Dan tiga hari berikutnya telah mencapai lebih dari 70%.

Saya terharu. Hampir saya menangis. Tangis penuh syukur. Bagaimana tidak? Anak seusia itu sudah berkesadaran. Berkemauan sendiri. Menjalankan salat sunah.

Pertanyaannya: mengapa bisa demikian? Bisakah alasan itu digunakan untuk menumbuhkan kesadaran mereka dalam hal lainnya?

Awal tahun saya bermusyawarah dengan teman-teman guru. Tercapai kesepakatan. Tiap hari ada pembiasaan Duha dan Zuhur. Yang Duha fokus pada bacaan dan gerakan salat. Pendekatan yang digunakan adalah pembimbingan. Jadi, murid sebetulnya tidak salat Duha. Tetapi latihan salat. Bacaan mereka dikeraskan. Pun bila ada kesalahan, akan diperbaiki oleh guru. Demikian pula gerakannya. Posisi tangan, kaki dicek oleh guru. Sesekali ditahan. Memastikan bacaan dan gerakan sudah benar. 

Pembiasaan Zuhur fokus pada sikap salat. Suara/ketenangan,  posisi saf, dan lainnya. Menggunakan pendekatan keteladanan. Guru dan nonguru (orang dewasa lainnya) sebagai teladan. Murid benar-benar menjalankan salat. Bukan latihan salat. Dijalankan secara berjemaah. Imamnya orang dewasa. Murid sebagai makmum. 

Di pekan-pekan awal, suara riuh pada rakaat pertama beberapa kali terdengar. Lama-kelamaan suasana tenang saat jemaah begitu terasa. Sangat mendukung orang menjalankan salat dengan khusyuk.

Sejak awal pendekatan yang digunakan adalah keteladanan. Menjelang salat guru tidak mengimbau apa pun secara klasikal. Sesekali guru mengarahkan secara individual kepada beberapa murid. 

Sebelum jemaah, guru menjalankan salat sunah. Murid-murid hanya melihat. Guru tidak mengajak. Hanya menjalankan untuk diri sendiri saja. Setelah 3 bulan berjalan ternyata murid-murid antusias untuk meniru gurunya. Dengan kemauan sendiri. 

Apakah pendekatan keteladanan ini yang menumbuhkan kesadaran murid? Untuk menjawab ini saya pikir butuh riset yang lebih komprehensif. 

Namun, saya sering mendengar bahwa Rasulullah dalam berdakwah juga menggunakan keteladanan. Dan saya sangat yakin. Apa yang dilakukan Rasulullah pasti benar. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *