Qaleed (berpeci) tengah membaca buku Bahasa Jawa

“Bu Wiwik, Qaleed nangis!” seru Naufal dari ambang pintu kelas.

Deg. Degup tak nyaman berdesir di dada. Qaleed bukan tipe anak yang lemah. Ada apa ini sampai-sampai ia menangis. Bergegas, Bu Wiwik menghampiri Qaleed yang tengah bersimpuh di lantai selasar sambil memegang perutnya.

“Qaleed perutnya sakit? Kita obati dulu, ya. Habis itu nanti Qaleed cerita,” ucap Bu Wiwik.

Di belakang Qaleed ada seorang temannya yang menghibur Qaleed. Ia berkali-kali mengucapkan kata maaf sambil berusaha meraih tangan Qaleed.

“Ada apa, Mas Adit?” tanya Bu Wiwik.

Yang ditanya menunduk sembari tersenyum kecil. Sorot matanya menggambarkan rasa takut.

“Tadi aku kejar-kejaran sama Adit. Terus dia dorong aku sampai kena ini,” jelas Qaleed sembari menunjukkan tempat ia terbentur.

Adit semakin takut.

“Oh, begitu ceritanya. Bu Wiwik yakin Mas Adit tadi tidak sengaja. Iya kan, Mas Adit?”

“Iya, Bu. Aku tidak sengaja,” jawab Adit masih dengan rona wajah takut. Kali ini ia telah berani mengangkat wajahnya.

“Tadi Mas Adit sepertinya mau minta maaf. Mas Qaleed, Mas Adit dimaafkan, ya,” pinta Bu Wiwik.

Qaleed mengangguk. Mereka bersalaman.

Bu Wiwik mengajak Qaleed masuk kelas. Ia mengambil minyak kayu putih di laci meja guru. Peranti ini harus selalu ada di kelas. Setiap hari ada saja “pelanggan” yang menggunakannya. Sakit perut, sakit gigi, sakit tenggorokan, bahkan hidung tersumbat, cukup oleskan minyak “ampuh” ini, insyaallah anak-anak sudah merasa cukup.

“Perutnya masih sakit?” tanya Bu Wiwik sembari mengoleskan minyak ke perut Qaleed.

“Sedikit,” jawab Qaleed singkat.

“Sekarang, Mas Qaleed makan dan minum dulu, ya. Kalau mau istirahat di UKS juga boleh.”

Qaleed menggelengkan kepala.

“Ya sudah, Mas Qaleed duduk di kursi, ya. Sambil makan dan minum. Insyaallah perutnya segera sembuh.”

***

Qaleed (berpeci) tengah membaca buku Bahasa Jawa

Adia mendekati Bu Wiwik.

“Bu Wiwik, nanti kan pulang gasik. Terus mewarnainya kapan?”

“Insyaallah setelah istirahat,” jawab Bu Wiwik.

“Berarti pas jam matematika?”

“Iya. Kok Mbak Adia tahu?

“Iya, soalnya aku tadi lihat jadwal.”

Bel masuk berbunyi. Anak-anak duduk di karpet. Beberapa anak menagih janji Bu Wiwik untuk mewarnai. Saat ini, kegiatan mewarnai gambar menjadi salah satu kegiatan favorit anak-anak. Jadi, tak ada salahnya mengorbankan matematika dulu.

“Sebelum mulai mewarnai, Bu Wiwik ingin bicara dulu, ya. Sekitar lima menit. Setelah itu, anak-anak boleh menyampaikan apa pun. Namun, selama lima menit itu, Bu Wiwik minta tolong tidak ada yang menyela dulu, ya. Sepakat?”

“Sepakaat!” kompak, anak-anak menjawab.

“Anak-Anak, tadi ada kejadian. Mas Qaleed terjatuh saat lari karena terdorong oleh salah seorang teman kita. Alhamdulillah teman kita itu tadi sudah minta maaf kepada Mas Qaleed. Jadi, masalahnya sudah selesai. Anak-Anak, seperti yang pernah Bu Wiwik sampaikan dulu, bahwa kalian tidak boleh lari-lari di selasar. Bolehnya lari-lari di mana?”

“Di lapangan!” para siswa menjawab serempak.

“Alhamdulillah, Anak-Anak masih ingat. Jadi, kalau ada teman yang lupa, tolong diingatkan, ya, Teman-Teman.”

“Iya, Bu. Tadi aku sudah ingatkan Itaf dan Adit, tapi mereka nggak mau nurut,” ungkap Hafidz.

“Alhamdulillah, terima kasih, Mas Hafidz,” ucap Bu Wiwik sambil mencari Itaf dan Adit. Keduanya tersenyum merasa bersalah.

“Mas Adit, Mas Itaf, tidak boleh diulang lagi, ya. Lari-lari boleh, tapi di …?”

“Lapangan,” jawab keduanya.

“Ada yang ingin disampaikan lagi, Anak-Anak?”

Para siswa terdiam. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin mewarnai.

Selama kegiatan ini, Qaleed belum mau bergabung dengan teman-temannya. Ia duduk sendiri di kursinya. Bu Wiwik sengaja membiarkannya. Qaleed butuh waktu untuk mengelola emosinya.

“Oke, sekarang saatnya mewarnai. Bu Wiwik menyediakan empat gambar. Masing-masing jumlahnya tujuh lembar. Bu Wiwik akan memilih siswa yang tertib untuk mengambil gambar terlebih dahulu.”

Semua siswa bersedekap dan melipat kedua kakinya.

“Mas Qaleed, silakan ambil gambar.”

Bu Wiwik sengaja menunjuk Qaleed agar ia kembali bersemangat lagi. Alhamdulillah Qaleed bersedia mengambil gambar yang menjadi pilihannya. Ia lantas mengambil krayon di loker, lalu mulai mewarnai. Wajahnya masih diliputi kesedihan.

Dari kejadian ini, Bu Wiwik menyimpulkan bahwa Qaleed merupakan tipe anak yang tidak mudah melupakan rasa sedihnya. Meski ia tak pernah bersedih sebelumnya, tetapi begitu rasa sedih itu muncul, ia butuh waktu cukup lama untuk bisa kembali seperti biasa. Saat ini, solusi yang dimiliki Bu Wiwik adalah membicarakan masalah yang dialami, menyelesaikan, lalu membiarkan Qaleed mengelola emosinya. Solusi ini belum tentu cocok bagi siswa lain. Kembali, tugas guru adalah belajar, belajar, belajar, dan mengajar.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *