Saya lihat jam. Pukul 13.20. Saya keluar dari ruang guru. Di halaman sekolah sudah tampak sepi. Di tempat bermain juga sepi. Saya menuju ke ruang kelas. Juga sudah sepi.

“Berarti anak-anak sudah pulang semua. Saatnya berangkat ke musala SD Islam Hidayatullah,” saya membatin.

Hari itu tanggal 25 November 2022. Bertepatan dengan HGN (Hari Guru Nasional). Sesuai dengan Keputusan Presiden nomor 78 tahun 1994, tanggal 25 November ditetapkan sebagai HGN. Pilihan tanggal tersebut berkaitan dengan tanggal lahir PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), yakni 25 November 1945.

Selain HGN ada juga hari guru sedunia. Diperingati setiap tanggal 5 Oktober. Hari guru sedunia merupakan perayaan untuk memperingati pengadopsian rekomendasi Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tentang Status Guru pada 5 Oktober 1994.

Kali ini guru SD Islam Hidayatullah 02 ikut bergabung perayaan HGN  di musala SD Islam Hidayatullah. Dijadwalkan mulai pukul 13.00 dan berakhir pukul 15.00. Karena itulah, hari itu anak-anak dipulangkan lebih awal, pukul 12.45.

Saya sudah terlambat 20 menit. Pintu ruang guru sudah tertutup, tinggal memastikan pintu ruangan saya. Setelah itu, saya hendak berangkat menuju musala. Namun, saat tiba di dekat tempat parkir motor, saya lihat masih ada satu anak yang duduk menunggu jemputan. Saya dekati.

“Iqbal belum dijemput?”

“Belum, Pak.”

Tinggal kamu sendirian atau masih ada yang lain?”

“Tinggal saya, Pak. Yang lain sudah pulang semua.”

“Saya teleponkan Bapak/Ibu, mau?”

“Ya, Pak.”

“Biasanya, yang jemput, Bapak atau Ibu?”

“Ibu.”

“Berarti saya telepon Ibu saja, ya.”

Segera saya ambil HP. Saya cari nama ibu Iqbal. Namun, belum sempat ketemu nama yang saya cari, Iqbal sudah berseloroh, “Pak Kambali, itu Ibu sudah datang.”

Sesaat kemudian, mobil masuk ke halaman sekolah. Iqbal lalu pamit dan menyalami saya. Alhamdulillah, anak-anak sudah pulang semua. 

Saya tiba di musala saat sedang acara menyanyikan Himne Guru. Saya bergabung dan berdiri menyesuaikan yang lain. Saya masih bisa mengikuti rangkaian acara hingga selesai. 

Salah satu rangkaian acaranya, Pak Pri (pembawa acara) mempersilakan empat guru senior untuk maju ke depan. Di depan sudah disediakan karpet untuk keempatnya. Kemudian Pak Pri memandu bincang-bincang dengan keempatnya, yakni Bu Amik, Bu Yuni, Bu Rini, dan Pak Wilys. Para guru senior bercerita banyak hal tentang masa-masa awal mereka bergabung di SD Islam Hidayatullah. 

Duduk dari kiri ke kanan: Pak Wilys, Bu Amik, Bu Yuni, Bu Rini, Pak Pri. Berdiri: Pak Mustofa.

Bu Yuni bergabung di SD Islam Hidayatullah tahun 1992. Saat wawancara dengan Kepala Sekolah, Bu Yuni ditantang untuk mulai berhijab dan mengajar di SD Islam Hidayatullah. Bu Yuni menerima tantangan itu. Bahkan beliau merasa mendapat hidayah ketika bergabung di SD Islam Hidayatullah. Dan yang paling mengesankan, saat Pak Pri sudah bermaksud menyudahi acara bincang-bincang, tiba-tiba Bu Yuni memohon izin untuk bicara lagi. 

“Saya hendak berpesan kepada kita semua. Yang terpenting bagi kita sebagai guru adalah mengajarkan adab dan membangun karakter. Mari kita semua memperhatikan hal tersebut walaupun itu tampak sebagai sesuatu yang kecil. Sesuatu yang besar itu dimulai dari yang kecil.”

Pesan ini begitu terasa mendalam pada diri saya. Spontan saya catat pesan beliau tersebut. Sembari berdoa: semoga Allah mempermudah guru-guru dalam membangun karakter anak-anak. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *