“Anak-Anak, kalau menjawab salam pakai level berapa?”

“Level 2,” jawab anak-anak serempak.

“Baik, Bu Wiwik ulang salamnya, ya.”

Itulah suasana Kamis (3/11) pagi pascatahfiz di ruang kelas 1 SD Islam Hidayatullah 02. Saat Bu Wiwik mengucap salam pertama kali, anak-anak menjawab dengan suara yang sangat keras. Hal itulah yang menyebabkan Bu Wiwik mengulang salam. Sebelum megulang, beliau pastikan terlebih dahulu, apakah anak-anak masih ingat level suara saat menjawab salam di ruangan.

Selepas anak-anak menjawab salam—menggunakan suara level 2—yang kedua kali, Bu Wiwik mengulas kembali penggunaan suara level 1, 2, dan 3. Ulasan tersebut beliau gunakan sebagai penguatan kepada anak-anak. 

Suara level 1 digunakan saat berbicara dengan satu pendengar. Suaranya pelan, kira-kira cukup terdengar oleh lawan bicara. Suara level 2 digunakan saat bicara di dalam ruang (termasuk ruang kelas). Pendengarnya seluruh orang di dalam ruangan. Level 3 digunakan saat bicara di luar kelas (di lapangan saat olahraga, misalnya) dengan banyak pendengar.

Sebetulnya pada awal tahun (Juli 2022) Bu Wiwik bersama-sama dengan anak-anak sudah membuat kesepakatan kelas. Kesepakatan ini dibutuhkan dalam rangka membangun suasana belajar di kelas agar berjalan dengan baik dan kondusif. Salah satunya, tentang kesepakatan level suara. Tetapi, kenyataannya anak-anak seringkali  lupa seperti pagi itu—jangankan anak-anak, orang dewasa pun masih sering lupa. Sesering anak lupa, sebanyak itu pula anak butuh diingatkan dan diberi penguatan. Tanpa itu, anak-anak cenderung abai terhadap kesepakatan yang telah mereka buat di awal tahun. 

Ulasan tentang level suara berakhir. Bu Wiwik melanjutkan dengan refleksi hari sebelumnya. Ditemukan laci yang bersemut. Penyebabnya: potongan makanan yang masih tersisa di laci. Anak-anak juga masih membutuhkan penguatan mengenai kesepakatan meninggalkan meja kursi saat pulang sekolah.

Bu Wiwik berpesan agar anak-anak mengecek laci masing-masing sebelum pulang sekolah. Beberapa anak angkat tangan. Salah satu disilakan bicara. Ia tidak bertanya. Ia menyampaikan bahwa kemarin sebelum pulang sudah membersihkan laci terlebih dahulu.  Bu Wiwik memberi apresiasi kepada anak tersebut. Lalu anak lain yang angkat tangan disilakan bicara. Ia menceritakan peristiwa di rumahnya. Senada dengan makanan yang mengundang datangnya semut. 

Anak-anak yang mengangkat tangan ternyata bertambah banyak. Apa yang dilakukan Bu Wiwik? Mengabaikannya? Memutus pembicaraan? Bila memutus pembicaraan, apa cara yang beliau lakukan? 

Masyaallah, ternyata Bu Wiwik pilih melayani semua anak yang mengangkat tangan. Satu per satu diberi kesempatan bicara. Secara bergantian. Tak lupa Bu Wiwik memberi umpan balik. Tidak ada yang ketinggalan. Semua mendapat kesempatan. Sampai benar-benar sudah tidak ada lagi yang angkat tangan—menyampaikan isi hati mereka—baru kemudian Bu Wiwik melanjutkan pembicaraan. Mulai masuk materi pelajaran Matematika, menggunakan salah satu isi yang disampaikan anak-anak sebagai pijakannya.

Menggalang keterlibatan siswa

Butuh waktu 15 menit. Sejak salam hingga kemudian Bu Wiwik memulai pelajaran Matematika. Anak-anak sudah dalam posisi lega. Isi hati mereka telah didengar gurunya. Anak-anak mendapat pengakuan dari gurunya. Anak-anak juga telah mendapatkan penguatan atas kebiasaan baik yang mereka buat melalui kesepakatan kelas. Motivasi anak tetap dirawat, perilaku anak diarahkan, dan kesiapan anak menerima pelajaran juga diperhatikan. Kegiatan pembelajaran semacam ini apabila berjalan secara berkesinambungan pastilah akan berdampak positif terhadap tumbuh kembang anak. Sikap dan pengetahuannya. (A1)

Bagikan:
One thought on “Sabar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *