Hari itu tahfiz surah At-Tin. Hanya 8 ayat. Dibandingkan surah `Abasa yang 42 ayat, tentu surah ini lebih pendek meskipun sama-sama dalam juz 30. 

Sebelum yang lainnya, saya berkesempatan melantunkan terlebih dahulu surah At-Tin ini. Selesai saya lantunkan, salah seorang guru menanyakan bacaan ayat 6. Saya ulang kembali ayat tersebut. Guru yang bertanya tersebut (Bu Wiwik) mendekat.

“Bacaan Pak Kambali berbeda dengan tulisan pada mushaf ini.” Berkata demikian, Bu Wiwik sembari menunjukkan tulisan surah At-Tin dalam mushaf Al-Qur’an yang dipunyainya.

Saya amati tulisan dalam mushaf tersebut dengan saksama. Saya kaget: tulisan dalam mushaf itu berbeda dengan bacaan saya. 

“Astagfirullah, mungkinkah tulisan dalam mushaf tersebut yang salah ketik?”

Lalu saya ambil mushaf lain di meja. Ada dua mushaf di meja itu. Sambil membuka-buka mushaf, saya berseloroh.

“Sebab saya masih sangat terkesan bahwa huruf fa’ pada ayat tersebut justru saya gunakan sebagai pembeda dengan ayat lain yang mirip. Tapi saya lupa ayat mana surah apa?”

Setelah saya cek di dua mushaf yang berbeda, yakinlah saya: bacaan saya yang keliru.

Saya masih ada kesalahan dalam membaca. Namun, saya beruntung ada teman yang berkenan memberitahukan kesalahan saya. Pun memberitahukannya dengan cara yang santun dan sekaligus menunjukkan yang benar. Di banyak tempat, justru sering terjadi sebaliknya: takut memberitahukan kesalahan orang lain. Khawatir, menyakiti hati orang yang diberi tahu. Memang ada sebagian orang yang diberi tahu kesalahannya justru marah dan memutus pertemanan. Bisa jadi karena cara memberitahukannya yang kurang santun atau barangkali perangainya yang tidak mau menerima peringatan dari orang lain. 

Lebih dari satu pekan sejak kejadian tahfiz tersebut berlalu.

Pukul 18.11 saya menerima chat WA. Dari Bu Wiwik. 

“Pak, potongan bacaan At-Tin ayat 6 mungkin tertukar dengan Al-Insyiqaq ayat 25.”

Saya terpana beberapa saat. Saya tidak menyangka sama sekali. Saya tidak meminta. Tidak pula menugasinya. Ternyata Bu Wiwik masih kepikiran dengan kejadian itu. Masih penasaran dengan ayat lain yang mirip dengan At-Tin ayat 6. Tinggi sekali rasa ingin tahunya Bu Wiwik. Padahal  beliau itu guru kelas. Bukan guru Al-Qur’an. Bukan guru PAI.  Saya yang sangat terkesan dengan ayat itu pun tidak menyempatkan diri mencari tahu. Justru beliau yang mencari tahu. Namun, saya harus cek: benarkah Al-Insyiqaq ayat 25?

Beberapa menit kemudian saya balas chat itu.

“Iya, Bu. Benar. Terima kasih.”

Hari berikutnya saat bertemu langsung, saya tanyakan kepada Bu Wiwik bagaimana bisa hingga ketemu Al-Insyiqaq ayat 25. Jawaban Bu Wiwik sekaligus memberi pelajaran penting bagi saya: sabar, teliti, dan tidak mudah putus asa semestinya dimiliki setiap pembelajar. (A1)

Bagikan:
One thought on “Tak Disangka”
  1. Kebetulan (Allah yang mengatur) nderes saya kala itu pas sampai QS Al Insyiqaq, Pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *